Nuzulul qur’an dan Sab’ah Ahruf

BAB I

PEMBAHASAN

 

  1. A.     Nuzulul Qur’an

Nuzul al-Qur’an berasal dari kata Nuzul  dan kata al-qur’an. Kata Nuzul adalah bentuk masdar dari bahasa arab dengan akar kata nazala-yanzilu-nuzulan berarti turun atau berpindah tempat, atau menempati sesuatu. Sedang kata al-Quran berarti  kitab suci umat Islam yang diturunkan kepada Nabi a SAW meleui malaikat Jibril untuk menjadi peringatan, petunjuk , tuntunan dan hukum demi keselamatan hidup umat manusia didunia dan diakhirat. Dengan demikian Nuzulul al-Quran berarti turun atau perpindahan tempat Al-Quran dari Allah ke Jibril, dan dari Jibril kedalam hati Nabi Muhammad SAW., serta dari Nabi ke hati para sahabatnya, hingga ke umatnya secara umum.

Dalam masalah Nuzul al-Qur’an, cara malaikat menerima lafal al-Qur’an dan menurunkannya oleh para ulama masih diperselisihkan. Boleh jadi malaikat yang menurunkan al-Qur’an kepada Nabi Muhammad. Menerimanya dari Allah dengan cara tertentu yang tidak bisa kita gambarkan, atau malaikat itu menghafalkan dari lauh mahfuzh, kemudian menurunkan kepada Nabi Muahammad SAW, ada juga yang berpendapat bahwa Jibril menurunkan maknanya saja, kemudian baliau memahami makna-makna tersebut lalu menta’birkannya dengan bahasa arab. Ada juga, bahwa Jibril menerima makna lalu menta’birkannya dengan bahasa arab. Lafal jibril itulah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.  Begitu pula dengan tanggal pasti dari peristiwa Nuzul tersebut masih diperselisihkan.

Ayat al-Qur’an yang diterima Nabi Muhammad SAW turun secara berangsur-angsur selama kurang lebih 22 tahun atau tepatnya menurut sementara ulama, 22 tahun, 2 bulan, dan 22 hari, yakni sejak ia berusia 41 tahun sampai ia wafat dalam usia 63 tahun. Menurut berbagai sumber riwayat, Rasulullah hudup di Mekkah selama 13 tahun, kemudian hijrah kemadinah dan mukim di kota itu hingga akhir hayatnya, yakni 10 tahun. Rasulullah diangkat sebagai Nabi dan Rasul dalam usia 40 tahun1. baliau wafat dalam usia 63 tahun2. Beberapa sumber riwayat memperkirakan masa turunnya wahyu seluruhnya 20 tahun, tetapi ada juga yang memperkirakan kurang-lebih 25 tahun. Perkiraan ini didasarkan pada masa bermukimnya Rasulullah di Mekkah yaitu antara 10 dan 15 tahun.

Adalah merupakan hikmah Ilahi bahwa wahyu diturunkan sejalan dengan keperluan yang dibutunkan oleh Rasulullah dan untuk memberi tahu beliau mengenai soal-soal baru yang terjadi setiap hari. Melalui wahyu Allah SWT memberi

­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­

  1. 1.                Ibnu ‘Abbas
  2. 2.                Shahih Bukhari IV, hal 57

tuntunan serta petunjuk dan memantapkan ketabahan serta menambah ketenangan baliau. Ayat al-qur’an yang turun da-lam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari itu dengan silih berganti turun, yang selama dalam masa itu pula Nabi SAW dan para sahabatnya tekun mengajarkan al-Quran dan membimbing umatnya. Sehingga pada akhirnya mereka berhasil membangun masyarakat yang didalamnya terpadu antara ilmu dan iman, nur Ilahi dan hidayah-Nya, keadilan dan kemakmuran dibawah lindungan ridha’ dan ampunan Allah.

Al-Qur’an merupakan satu kesatuan paket, yang ayat-ayat nya tidak dapat dipisahkan satu sama lan, namun proses turunnya wahyu yang memakan waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari itu menunjukkan adanya hubungan erat antara teks, penerima pertama wahyu, dan objek realita sosial yang tidak dapat disepelekan dan diabaikan begitu saja. Hubungan erat dimaksud adalah bahwa wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW itu bukan bertujuan untuk menghapus budaya yang ada akan tetapi ia datang untuk mempersuntingnya, lalu mendudukkannya pada posisi yang lebih terhormat dari keadaan sebelumnya.

  1. B.     Sab’ati Ahrufin

Banyak  dari pakar hadits yang meriwayatkan bahwasannya Rasulallah pernah menyatakan: Al-Qur’an diturunkan dalam tujuh huruf. Diantara banyak hadits mengenai itu, yang paling jelas ialah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Menurut Hadits Bukhari, ‘Umar bin Khattab ra. berkata: “pada suatu hari, semasa Rasulallah masih hidup, aku mendengar Hisyam bin Hakim membaca surah al-Furqan. Aku mendengarkan baik-baik bacaannya. Tiba-tiba ia membacakan huruf yang tidak pernah dibaca oleh Rasulallah SAW kepadaku, sehingga hampir saja ia kuserang ketika ia sedang shalat. Akhirnya aku tunggu sampai ia mengucapkan salam. Setelah itu kutarik bajunya. Aku bertanya kepadanya: “siapakah yang membacakan surah itu kepadamu”? ia menjawab “Rasulallah yang membacakannya kepadaku” kukatakan: Engkau berdusta ! demi Allah Rasulullah tidak membacakan surah itu kepadaku seperti yang kudengar darimu”. Hisyam bin Hakim lalu kuseret menghadap Rasulullah dan aku bertanya : “ya Rasulullah, aku mendengar orang ini membaca surah al furqan dengan huruf- yang anda bacakan kepadaku, ketika anda membacakan surah al-furqan itu kepadaku’! Rasulullah menjawab: “hai umar lepaskan dia! Hai Hisyam bacalah” Hisyam lalu membaca surah alfurqan sebagaimana yang kudengar tadi. Kemudian Rasulullah menanggapinya: “demikian surah itu diturunkan”. Beliau melanjutkan : Al-Qur’an itu diturunkan dalam tujuh huruf, kerena itu mana yang mudah dari al-Qur’an.3

Hadits tentang al-Qur’an diturunkan dalam tujuh huruf itu nampaknya diriwayatkan oleh banyak sahabat Nabi terkemuka meskipun sukar dipastikan

  1. 3.                Shahih Bukhari VI, hal 185. Juga dalam musnad ibnu Hanbal I hal. 24. Juga dalam al-Burhan I hal 211

jumlahnya. Dalam Musnad al-Hafidz Abu Ya’la4 diketengahkan sebuah riwayat: pada suatu hari ketika Utsman bin ‘Affan ra. sedang berdiri diatas mimbar, ia berkata: “aku teringat kepada seorang yang mendengar sendiri Rasulullah bersabda: “Al- Qur’an diturunkan dalam tujuh huruf, semua benar dan cukup”. Setelah itu ‘Utsman turun dari mimbar dan semua hadirin berdiri menyatakan kesaksian mereka atas kebenaran yang diucapkan itu. Saat itu ‘usman menegaskan :”Dan aku menjadi saksi bersama mereka”

Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan tujuh huruf ini dengan perbedaan yang bermacam-macam. hingga  menjadi tiga puluh lima5 pendapat, dan bahkan ada yang mengatakan empat puluh6. Al-Zarqani memaparkan dua belas pendapat secara terinci termasuk pendapat Imam Abu al-Fadhl al-Razi yang menjadi pillihan dan pendapat ketiga belas sampai ke empat puluh secara acak dan umum dalam kitabnya Manahil al-‘rfan fi ‘ulum al-qur’an, jilid I; Al-Zarkasy menampilkan empat belas pendapat dalam kitabnya Al-Burhan fi ‘ulum Al-Qur’an, jilid I; Manna’ al-Qathtan menampilkan enam saja dalam kitabnya Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur’an, dan H. Umar Syihab memaparkan lima daripadanya dalam Al Qur’an dan rekayasa sosial. Disini kami akan kemukakan beberapa pendapat diantaranya yang dianggap paling mendekati kebenaran.

Pendapat Pertama : bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf ialah tujuh macam bahasa dari bahasa-bahasa Arab mengenai satu makna. Dengan pengertian jika bahasa mereka berbeda-beda dalam mengungkapkan satu makna, maka Qur’an pun diturunkan dengan sejumlah lafal sesuai dengan ragam bahasa tersebut tentang makna yang satu itu. Dan jika tidak terdapat perbedaan, maka Qur’an hanya mendatangkan satu lafaz atau lebih saja. Ini adalah pendapat sebagian besar ulama. Seperti : perintah untuk datang>     نحوى , قصدى , اسرع , عجل , تعال , اقبل

Pendapat Kedua : bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf ialah tujuh macam bahasa dari bahasa-bahasa arab dengan nama Qur’an diturunkan, dengan pengertian bahwa kata-kata dalam Qur’an secara keseluruhan tidak keluar dari ketujuh macam bahasa tadi. Yaitu bahasa paling fasih diantara kalangan bangsa arab. Meskipun sebagian besarnya dalam bahasa Quraisy. Sedang sebagian yang lain dalam bahasa Huzail, Saqif, Hawazin, Kinanah, Tamim atau Yaman; karena itu maka secara keseluruhan Qur’an mencakup ketujuh macam bahasa tersebut.

  1. 4.                ia adalah Ahmad bin ‘Ali bin al-mutsanna at-Tamimi al-Maushili, penghafal al-Qur’an terpercaya, terkenal dengan nama panggilan Abu Ya’la. Ia menulis dua musnad hadits, yaitu musnad kecil dan musnad besar. Wafat di Mushil tahun 307 H.
  2. 5.                Al-Zarkasy, op. Cip., hlm. 212
  3. 6.                Al-Suyuthi, jalaluddin, op. Cip., jilid I, hlm 47

 

 Pendapat ini berbeda dengan pendapat sebelumnya, karena yang dimaksud dengan tujuh huruf dalam pendapat ini adalah tujuh huruf yang bertebaran diberbagai surah Qur’an. Bukan tujuh bahasa yang berbeda dalam kata tetapi sama dalam makna.

Pendapat Ketiga : bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh wajah (bentuk/tema) yaitu: amr (perintah), nahyu (larangan), wa’d (janji), wa’id (ancaman), jadal(perdebatan), qasas (cerita), dan masal (perumpamaan). Atau amr, nahyu, halal, haram ,muhkam, mutasyabih dan amsal.

Pendapat Keempat : Segolongan ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf ialah : tujuh macam hal yang diantaranya terjadi ihtilaf (perbedaan) dalam tata bahasa.

Tujuh ikhtilaf dalam tata bahasa tersebut meliputi

  1.  Ikhtilaful asma'(perbedaan kata benda): dalam bentuk mufrad, muzakkar dan cabang-cabangnya, seperti tasniyah, jamak dan ta’nis
  2. Perbedaan dalam segi I’rab (harakat akhir kata),
  3. Perbedaan dalam tasrif
  4. Perbedaan dalam taqdhim (mendahulukan) dan takhir (mengakhirkan)
  5. Perbedaan dalam segi ibdal (penggantian), baik penggantian huruf dengan huruf, maupun penggantian pada sedikit perbedaan mahraj atau tempat keluar huruf
  6. Perbedaan karena ada penambahan dan pengurangan. Ihtilaf dengan penambahan (ziyadah) misalnya firman Allah: “Wa ‘aaddalahum jannatin tajri tahtahal anhar” (at Taubah:100) yang dibaca juga “Min tahtihal anhar” dengan tambahan “Min” , keduanya merupakan qiraat yang mutawatir
  7. Perbedaan lahjah seperti bacaan tafkhim (menebalkan) dan tarqiq (menipiskan), fatah dan imalah , idzhar dan idgham, hamzah dan tashil, isyman dll

Pendapat Kelima : bahwa yang dimaksud bilangan tujuh itu tidak diartikan secara harfiah (maksudnya bukan bilangan antara enam dan delapan), tetapi bilangan tersebut hanya sebagai lambang kesempurnaan menurut kebiasaan orang arab.

Dengan demikian, maka kata tujuh adalah isyarat bahwa bahasa dan susunan Qur’an merupakan batas dan sumber utama bagi perkataan semua orang arab yang telah mencapai puncak kesempurnaan tertinggi. Sebab lafaz sab’ah (tujuh) dipergunakan pula untuk menunjukkan jumlah banyak dan sempurna dalam bilangan satuan , seperti kata tujuh puluh’ dalam bilangan bilangan puluhan, dan ‘tujuh ratus’ dalam ratusan. Tetapi kata-kata itu tidak dimaksudkan untuk menunjukkan bilangan tertentu

Pendapat Keenam : Segolongan ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf tersebut adalah qiraat tujuh.

Pendapat ini dapat dijawab bahwa Qur’an itu bukanlah qiraat. Qur’an adalah wahyu yang diturunkan kepada Muhammad sebagai bukti risalah dan mukjizat. Sedang qiraat adalah perbedaan dalam cara mengucapkan lafal-lafal wahyu tersebut, seperti meringankan (takhfif), memberatkan (tasqil) membaca panjang dan sebagainya. Nampaknya apa yang menyebabkan mereka terperosok kedalam kesalahan ini ialah adanya kesamaan “bilangan tujuh” (dalam hadis ini dengan qiraat yang populer), sehingga permasalahannya menjadi kabur bagi mereka.

Pendapat ketujuh :  sebagiannya menafsirkan dengan tujuh ilmu, yaitu :

  1. ‘ilm al-itsbat wa al-ijad, seperti :ان فى خلق السموات والأرض  : sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi
  2. ilm al-tawhid wa al-tanjih, seperti :والهكم اله واحد  : dan tuhanmu adalah tuhan yang Esa
  3. ‘ilm sifat al-zat, seperti :ولله العزة  : dan bagi Allah kebanggaan
  4. ‘ilm sifat al-fi’l, seperti :واعبدواالله  : dan sembah kamulah Allah
  5. ‘ilm al-afw wa al-‘azab, seperti :ومن يغفر الذنوب الأالله  : dan siapakah yang mengampuni dosa melainkan Allah
  6. ‘ilm al-hasyr wa al-hisab, seperti : ان الساعةلأتية : sesungguhnya hari kiamat pasti akan datang
  7. ‘ilm al-nubuwwat, seperti :رسلا مبشرين ومنذ رين  : beberapa rasul memberi kabar gembira dan kabar takut

Penafsiran-penafsiran diatas telah dapat memberi gambaran variasi pandangan para ulama dalam masalah ini. Masing-masing mengemukakan alasan untuk memperkuat pendapatnya, baik alasan nash maupun nalar atau ijtihad. Namun alasan yang mereka kemukakan pada intinya bertumpu pada ijtihad, karena hadits-hadits yang dikemukakan bersifat umum yang dapa menerima penafsiran.

 

BAB II

PENUTUP

 

kesimpulan

Nuzul al-Qur’an berasal dari kata Nuzul  dan kata al-qur’an. Kata Nuzul adalah bentuk masdar dari bahasa arab dengan akar kata nazala-yanzilu-nuzulan berarti turun atau berpindah tempat, atau menempati sesuatu. Sedang kata al-Quran berarti  kitab suci umat Islam yang diturunkan kepada Nabi a SAW meleui malaikat Jibril untuk menjadi peringatan, petunjuk , tuntunan dan hukum demi keselamatan hidup umat manusia didunia dan diakhirat. Dengan demikian Nuzulul al-Quran berarti turun atau perpindahan tempat Al-Quran dari Allah ke Jibril, dan dari Jibril kedalam hati Nabi Muhammad SAW., serta dari Nabi ke hati para sahabatnya, hingga ke umatnya secara umum.

Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan tujuh huruf ini dengan perbedaan yang bermacam-macam. hingga  menjadi tiga puluh lima pendapat, dan bahkan ada yang mengatakan empat puluh. Al-Zarqani memaparkan dua belas pendapat secara terinci termasuk pendapat Imam Abu al-Fadhl al-Razi yang menjadi pillihan dan pendapat ketiga belas sampai ke empat puluh secara acak dan umum dalam kitabnya Manahil al-‘rfan fi ‘ulum al-qur’an, jilid I; Al-Zarkasy menampilkan empat belas pendapat dalam kitabnya Al-Burhan fi ‘ulum Al-Qur’an, jilid I; Manna’ al-Qathtan menampilkan enam saja dalam kitabnya Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur’an, dan H. Umar Syihab memaparkan lima daripadanya dalam Al Qur’an dan rekayasa sosial.

DAFTAR PUSTAKA

Wahid, Ramli Abdul, H. Ulumul Qur’an, , Rajawali, Jakarta, 1993.

As-Shalih, Dr. Subhi. Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, Pustaka Firdaus, Jakarta, 2008.

Internet…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s