Nikah

BAB I

PENDAHULUAN

بسم الله الرحمن الرحيم

Maha Suci Allah yang telah menciptakan manusia berpasang-pasangan
satu dengan yang lainnya, dan menyatukan keduanya dalam taqwa, serta
menumbuhkan darinya rasa tenteram dan kasih sayang. Shalawat serta
salam semoga selalu allah curahkan kepada teladan umat yang telah
mengembalikan harkat manusia kembali pada fitrahnya.

Islam sebagai ajaran yang sesuai dengan fitrah, telah mensyari’atkan
adanya pernikahan bagi setiap manusia. Dengan pernikahan seseorang
dapat memenuhi kebutuhan fitrah insaniyahnya (kemanusiaannya) dengan
cara yang benar sebagai suami isteri, lebih jauh lagi mereka akan
memperoleh pahala disebabkan telah melaksanakan amal ibadah yang
sesuai dengan syari’at Allah SWT.

  1. Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari umat islam selalu dihadapkan dengan berbagai masalah, untuk bisa menyelesaikannya harus memahami islam itu sendiri, maka dalam islam dikenal yang namanya hukum islam.

  1. Wajib, perintah yang mesti dikerjakan. Jika dikerjakan maka yang mengerjakan mendapat pahala, jika tidak dikerjakan,maka ia berdosa.
  2. Sunat, yaitu anjuran, jika dikerjakan dapat pahala, jika tidal dikerjakan tidak berdosa.
  3. Haram, yaitu larangan keras, kalau dikerjakan berdosa, kalau ditinggalkan dapat pahala.
  4. Makruh, yaitu larangan yang tidak keras, kalau di kerjakan tidak dihukum (tidak berdosa), dan jika ditinggalkan diberi pahala.
  5. Mubah, yaitu sesuatu yanga boleh dikejakan dan boleh pula di tinggalkan. Tidak berpahala dan tidak pula berdosa.

Semua hukum diatas tersebut harus diambil dari Alqur’an, Hadits, Ijma’ mujtahiddin, dan Qiyas. Dan sebagian ulama menambahkan, yaitu istihsan, istidlal, ‘urf, dan istishab.

Hukum-hukum itu ditinjau dari pengambilannya terdiri dari empat macam :

  1. Hukum yang diambil dari nas yang tegas, yakni adanya dan pula maksudnya menunjukkan kepada hukum itu.
  2. Hukum yang diambil dari nas yang tidak yakin maksudnya terhadap hukum-hukum itu.
  3. Hukum yang tidak ada nas,baik secara qat’i(pasti)maupun secara zanni(dugaan),tetapi pada suatu masa telah sepakat (ijma’)mujtahiddin atas hukum-hukumnya.
  4. Hukum yang tidak dari nas, baik qat’i maupun zanni, dan tidak pula ada kesepakatan mujahiddin atas hukum itu.

Untuk membantu memahami hal itu perlu diadakan pembelajaran sejak usia didi, khusunya dalam masalah keagamaan.karana jika dari usia dini tidak di didik maka setelah dewasa(menikah) akan mengalami ketidak tahuan dalam masalah agama(hukum).

  1. Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas dapat dapat diambil suatu permasalahan yang dihadapi yakni seberapa pentingkah proses pembelajaran sejak dini dalam meningkatkan kualitas umat pada masa akan datang.

  1. Tujuan Penulisan

Karena begitu pentingnya pengetahuan tentang agama untuk masa sekaranga maupun yang akan datang, maka perlu terobosan untuk mencapai hal itu. Salah satunya adalah mendidik anak sejak usia dini.

Melihat begitu urgennya dan untuk menenuhi tugas mata kuliyah hadits. Tujuan  adalah agar penulis secara pribadi dan calon pengajar(pembimbing) dapat memahami pentingnya agama, tentu harapanya adalah implementasi dari suatu ilmu yang akan sangat bermanfaat dalam melaksanakan pembelajaran.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian nikah

Arti Nikah Menurut bahasa:  berkumpul atau menindas.  Adapun menurut istilah Ahli Ushul, Nikah menurut arti aslinya ialah aqad, yang dengannya menjadi halal hubungan kelamin antara lelaki dan perempuan, sedangkan menurut arti majasi ialah setubuh. Demikian menurut Ahli Ushul golongan Syafi’iyah. Adapun menurut Ulama Fiqih, Nikah ialah aqad yang di atur oleh Islam untuk memberikan kepada lelaki hak memiliki penggunaan terhadap faraj (kemaluan) dan seluruh tubuhnya untuk penikmatan sebagai tujuan utama.

Firman Allah Swt.:

فانكحواماطاب لكم من النساء مثنى وثلث وربع فان خفتم الاتعدلوافواحدة.

Maka nikahilah wanita-wanita(lain)yang kamu senagi dua,tiga, atau empat.kemudian jika kamu takut tidak akan dapat k adil,maka nikahilah seorang saja” (An-Nisa:3)

  1. Hukum nikah
  2. Pernikahan Yang Wajib Hukumnya

Menikah itu wajib hukumnya bagi seorang yang sudah mampu secara finansial dan juga sangat beresiko jatuh ke dalam perzinaan. Hal itu disebabkan bahwa menjaga diri dari zina adalah wajib. Maka bila jalan keluarnya hanyalah dengan cara menikah, tentu saja menikah bagi seseorang yang hampir jatuh ke dalam jurang zina wajib hukumnya.
Imam Al-Qurtubi berkata bahwa para ulama tidak berbeda pendapat tentang wajibnya seorang untuk menikah bila dia adalah orang yang mampu dan takut tertimpa resiko zina pada dirinya. Dan bila dia tidak mampu, maka Allah SWT pasti akan membuatnya cukup dalam masalah rezekinya, sebagaimana firman-Nya :
Dan Yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi. (QS.An-Nur : 33)

  1. Pernikahan Yang Sunnah Hukumnya
    Sedangkan yang tidak sampai diwajibkan untuk menikah adalah mereka yang sudah mampu namun masih tidak merasa takut jatuh kepada zina. Barangkali karena memang usianya yang masih muda atau pun lingkungannya yang cukup baik dan kondusif.
    Orang yang punya kondisi seperti ini hanyalah disunnahkan untuk menikah, namun tidak sampai wajib. Sebab masih ada jarak tertentu yang menghalanginya untuk bisa jatuh ke dalam zina yang diharamkan Allah SWT.Bila dia menikah, tentu dia akan mendapatkan keutamaan yang lebih dibandingkan dengan dia diam tidak menikahi wanita. Paling tidak, dia telah melaksanakan anjuran Rasulullah SAW untuk memperbanyak jumlah kuantitas umat Islam.Dari Abi Umamah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Menikahlah, karena aku berlomba dengan umat lain dalam jumlah umat. Dan janganlah kalian menjadi seperti para rahib nasrani. (HR. Al-Baihaqi 7/78)
    Bahkan Ibnu Abbas ra pernah berkomentar tentang orang yang tidak mau menikah sebab orang yang tidak sempurna ibadahnya.
  2. Pernikahan Yang Haram Hukumnya
    Secara normal, ada dua hal utama yang membuat seseorang menjadi haram untuk menikah. Pertama, tidak mampu memberi nafkah. Kedua, tidak mampu melakukan hubungan seksual. Kecuali bila dia telah berterus terang sebelumnya dan calon istrinya itu mengetahui dan menerima keadaannya.
    Selain itu juga bila dalam dirinya ada cacat pisik lainnya yang secara umum tidak akan diterima oleh pasangannya. Maka untuk bisa menjadi halal dan dibolehkan menikah, haruslah sejak awal dia berterus terang atas kondisinya itu dan harus ada persetujuan dari calon pasangannya.Seperti orang yang terkena penyakit menular yang bila dia menikah dengan seseorng akan beresiko menulari pasangannya itu dengan penyakit. Maka hukumnya haram baginya untuk menikah kecuali pasangannya itu tahu kondisinya dan siap menerima resikonya.Selain dua hal di atas, masih ada lagi sebab-sebab tertentu yang mengharamkan untuk menikah. Misalnya wanita muslimah yang menikah dengan laki-laki yang berlainan agama atau atheis. Juga menikahi wanita pezina dan pelacur. Termasuk menikahi wanita yang haram dinikahi (mahram), wanita yang punya suami, wanita yang berada dalam masa iddah.
    Ada juga pernikahan yang haram dari sisi lain lagi seperti pernikahan yang tidak memenuhi syarat dan rukun. Seperti menikah tanpa wali atau tanpa saksi. Atau menikah dengan niat untuk mentalak, sehingga menjadi nikah untuk sementara waktu yang kita kenal dengan nikah kontrak.
  3. Pernikahan Yang Makruh Hukumnya
    Orang yang tidak punya penghasilan sama sekali dan tidak sempurna kemampuan untuk berhubungan seksual, hukumnya makruh bila menikah. Namun bila calon istrinya rela dan punya harta yang bisa mencukupi hidup mereka, maka masih dibolehkan bagi mereka untuk menikah meski dengan karahiyah.
    Sebab idealnya bukan wanita yang menanggung beban dan nafkah suami, melainkan menjadi tanggung jawab pihak suami. Maka pernikahan itu makruh hukumnya sebab berdampak dharar bagi pihak wanita. Apalagi bila kondisi demikian berpengaruh kepada ketaatan dan ketundukan istri kepada suami, maka tingkat kemakruhannya menjadi jauh lebih besar.
  4. Pernikahan Yang Mubah Hukumnya

Orang yang berada pada posisi tengah-tengah antara hal-hal yang mendorong keharusannya untuk menikah dengan hal-hal yang mencegahnya untuk menikah, maka bagi hukum menikah itu menjadi mubah atau boleh. Tidak dianjurkan untuk segera menikah namun juga tidak ada larangan atau anjuran untuk mengakhirkannya.

  1. Rukun  Nikah

Rukun adalah bagian dari sesuatu, sedang sesuatu itu takkan ada tanpanya.Dengan demikian, rukun perkawinan adalah ijab dan     kabul yang muncul dari keduanya berupa ungkapan kata (shighah). Karena dari shighah ini secara langsung akan menyebabkan timbulnya sisa rukun yang lain.

  1. Ijab

Ucapan yang terlebih dahulu terucap dari mulut salah satu kedua belah pihak untuk menunjukkan keinginannya membangun ikatan.

  1. Qabul

apa yang kemudian terucap dari pihak lain yang menunjukkan kerelaan/ kesepakatan/ setuju atas apa yang tela siwajibkan oleh pihak pertama.

Dari shighah ijab dan qabul, kemudian timbul sisa rukun lainnya, yaitu

a. Adanya kedua mempelai (calon suami dan calon istri)

b.  Wali

c.  Saksi

Shighah akad bisa diwakilkan oleh dua orang yang telah    disepakati oleh syariat, yaitu:

o Kedua belah pihak adalah asli: suami dan istri

o Kedua belah pihak adalah wali: wali suami dan wali istri

o Kedua belah pihak adalah wakil: wakil suami dan wakil istri

o Salah satu pihak asli dan pihak lain wali

o Salah satu pihak asli dan pihak lain wakil

o Salah satu pihak wali dan pihak lain wakil

  1. Syarat Nikah

Akad pernikahan memiliki syarat-syarat syar’i, yaitu

terdiri dari 4 syarat:

  • Syarat-syarat akad
  • Syarat-syarat sah nikah
  • Syarat-syarat pelaksana akad (penghulu)
  • Syarat-syarat luzum (keharusan)

         1. Syarat-syarat akad

    a.  Syarat-syarat shighah:

lafal bermakna ganda, majelis ijab qabul harus   bersatu, kesepakatan kabul dengan ijab, menggunakan ucapan ringkas tanpa menggantukan ijab dengan lafal yang menunjukkan masa depan.

  b. Syarat-syarat kedua orang yang berakad:

  • keduanya berakal dan mumayyiz
  • keduanya mendengar ijab dan kabul , serta memahami maksud dari  ijab dan qabul adalah untuk membangun mahligai pernikahan, karena intinya kerelaan kedua belah pihak.

   c.  Syarat-syarat kedua mempelai:

1.  suami disyaratkan seorang muslim

istri disyaratkan bukan wanita yang haram untuk dinikahi, seperti; ibu, anak perempuan, saudara perempuan, bibi dari bapak dan dari ibunya.

2.  disyaratkan menikahi wanita yang telah dipastikan kewanitaannya.

         2. Syarat-syarat sah nikah

a.  Calon istri tidak diharamkan menikah dengan calon suami

b.  Kesaksian atas pernikahan

c.  keharusan adanya saksi

d.  waktu kesaksian, yaitu kesaksian arus ada saat pembuatan akad

  • Hikmah adanya kesaksian

Pernikahan mengandung arti penting dalam islam, karena dapat    memberi kemaslahatan dunia dan akhirat. Dengan demikian ia harus diumumkan dan tidak disembunyikan. Dan cara untuk mengumumkannya adalah dengan menyaksikannya.

  • Syarat-syarat saksi
  • berakal, baligh, dan merdeka
  • para saksi mendengar dan memahami ucapan kedua orang yang berakad
  • jumlah saksi, yatu dua orang laki-laki atau satu orang laki-laki dan dua orang perempuan. Q. S. Al-Baqoroh : 282
  • Islam
  • adil
  • Lafal (Shighah) akad perkawinan bersifat kekal

Demi keabsahan akad nikah, shighah disyaratkan untuk selamanya (kekal) dan tidak bertempo (nikah mut’ah).

  1. Syarat-syarat Pelaksana Akad (Penghulu)

Maksudnya ialah orang yang menjadi pemimpin dalam akad adalah orang yang berhak melakukannya.

a). Setiap suami istri berakal, baligh, dan merdeka

b). Setiap orang yang berakad harus memiliki sifat syar’I : asli, wakil, atau wali dari salah satu kedua mempelai.

4. Syarat-syarat Luzum (Keharusan)

a.  Orang yang mengawinkan orang yang tidak memiliki kemampuan adalah orang yang dikenal dapat memilihkan pasangan yang baik, seperti keluarga atau kerabat dekat.

b.  Sang suami harus setara dengan istri

      c. Mas kawin harus sebesar mas kawin yang sepatutnya atau semampunya.

d.  Tidak ada penipuan mengenai kemampuan sang suami.

e. Calon suami harus bebas dari sifat-sifat buruk yang menyebabkan diperbolehkannya tuntutan perpisahan (perceraian).

E. hikamah Syariat Nikah

 

  1. Nikah adalah salah satu sunnah (ajaran) yang sangat dianjurkan oleh Rasul Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dalam sabdanya:

عَبْدِ اَللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍعَنْ عَلْقَمَةَ, قَالَ: كُنْتُ مَعَ عَبْدِ اللهِ فَلَقِيَهُ عُثْمَانُ بِمِنًى, فَقَالَ:يَاأَبَاعَبْدِالرَّحْمَنِ إِنَّ لِيْ اِلَيْكَ جَةً, فَخَلَيَافَقَالَ عُثْمَانُ: هَلْ لَكَ يَاأَبَاعَبْدِالرَّحْمَنِ فِيْ أَنْ نُزَوِّجَكَ بِكْرًاتُذَكِّرُكَ مَاكُنْتَ تَعْهَدُ فَلَمّاَرَأَى عَبْدُاللهِ أَنْ لَيْسَ لَهُ حَاجَةٌ إِلَى هَذَا,أَشَارَإِلَيَّ, فَقَالَ:يَاعَلقَمَةُ فَاَنْتَهَيْتُ إِلَيْهِ وَهُوَيَقُوْلُ:أَمَالَئِنْ قُلْتَ ذَلِكَ,لَقَدْقَالَ لَنَاالنَّبِيُّ ص.م :يَامَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاعَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ,وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَاِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.

Dari Abdullah Ibnu mas’ud r.a dari Alqomah,dia berkata: Aku bersama Abdullah tiba-tiba bertemu dengan Usman di Mina,  lalu keduanya berembuk: Usman berkata: Ya Abda Abdirrahman, sukakah anda kami nikahkan dengan gadis untuk mengingatkanmu kenangan-kenangan dahulu. Karena Abdullah bin Mas’ud tidak berhasrat kaswin maka dia menunjuk kepadaku dan dia berkata: Wahai al-qamah, lalu saya berhenti dengan ucapan itu, lalu dia berkata: jika anda katakan begitu maka Nabi SAW bersabda kepada kami: Hai para pemuda baragsiapa diantara kalian mampu untuk menikah,maka menikahlah, dan siapa tidak mampu maka hendaklah barpuasa(menahan diri) maka itu untuk menahan syahwat. (Bukhari-Muslim).

  1. Nikah adalah satu upaya untuk menyempurnakan iman. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

 من أعطى لله ومنع لله وأحب لله وأبغض لله وأنكح لله فقداستكمل الإيمان

Barangsiapa memberi karena Allah, menahan kerena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan menikahkan karena Allah maka ia telah menyempurnakan iman.” (HR. Hakim,dia berkata: Shahih sesuai dg syarat Bukhari Muslim. Disepakati oleh adz Dzahabi)

مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدْ اِسْتَكْمَلَ نِصْفُ الِإيْمَانِ فَلْيَتَقِ الله فِي النِّصْفِ البَاقِي

 

Barangsiapa menikah maka ia telah menyempurnakan separuh iman, hendaklah ia menyempurnakan sisanya.” (HR. Ath Thabrani, dihasankan oleh Al Albani)

Kisah:

Al Ghazali bercerita tentang sebagian ulama, katanya:”Di awal keinginan saya (meniti jalan akhirat), saya dikalahkan oleh syahwat yang amat berat, maka saya banyak menjerit kepada Allah. Sayapun bermimpi dilihat oleh seseorang, dia berkata kepada saya:”Kamu ingin agar syahwat yang kamu rasakan itu hilang dan (boleh) aku menebas lehermu? Saya jawab:”Ya”. Maka dia berkata:”Panjangkan (julurkan) lehermu.” Sayapun memanjangkannya. Kemudian ia menghunus pedang dari cahaya lalu memukulkan ke leherku. Di pagi hari aku sudah tidak merasakan adanya syahwat, maka aku tinggal selama satu tahun terbebas dari penyakit syahwat. Kemduian hal itu datang lagi dan sangat hebat, maka saya melihat seseorang berbicara pasa saya antara dada saya dan samping saya, dia berkata:”Celaka kamu! Berapa banyak kamu meminta kepada Allah untuk menghilangkan darimu sesuatu yang Allah tidak suka menghilangkannya! Nikahlah!” Maka sayapun menikah dan hilanglah godaan itu dariku. Akhirnya saya mendapatkan keturunan.” (Faidhul Qadir VI/103 no.8591)

  1. Nikah adalah satu benteng untuk menjaga masyarakat dari kerusakan, dekadensi moral dan asusila. Maka mempermudah pernikahan syar’i adalah solusi dari semu itu. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

 

Jika datang kepadamu orang yang kamu relakan akhlak dan agamanya maka nikahkanlah, jika tidak kamu lakukan maka pasti ada fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Hakim, hadits shahih)

4. Pernikahan adalah lingkungan baik yang mengantarkan kepada eratnya hubungan keluarga, dan saling menukar kasih sayang di tengah masyarakat. Menikah dalam Islam bukan hanya menikahnya dua insan, melainkan dua keluarga besar.

5. Pernikahan adalah sebaik-baik cara untuk mendapatkan anak, memperbanyak keturunan dengan nasab yang terjaga, sebagaimana yang Allah pilihkan untuk para kekasih-Nya:

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan.” (QS. Ar Ra’d:38

  1. Pernikahan adalah cara terbaik untuk melampiaskan naluri seksual dan memuaskan syahwat dengan penuh ketenangan.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

Sesungguhnya wanita itu menghadap dalam rupa setan (menggoda) dan membelakangi dalam rupa setan, maka apabila salah seorang kamu melihat seorang wanita yang menakjubkannya hendaklah mendatangi isterinya, sesungguhnya hal itu dapat menghilangkan syahwat yang ada dalam dirinya.” (HR. Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi)

7. Pernikahan memenuhi naluri kebapakan dan keibuan, yang akan berkembang dengan adanya anak.

8. Dalam pernikahan ada ketenangan, kedamaian, kebersihan, kesehatan, kesucian dan kebahagiaan, yang diidamkan oleh setiap insan.

BAB III

KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat di simpulkan bahwa pernikahan itu merupakan perkara yang dianjurkan, karena didalamnya terdapat banyak hal yang menjadikan kita semakin dekat kepada allah, dengan adanya pernikahan manusia  insya allah akan terjaga dari godaan syahwat yang datang  dari syetan, maka beruntunglah manusia yang telah menikah dan selalu mendekatkan diri kepada Allah.

Allah pun telah menjelaskan secara terperinci masalah nikah di dalam al-quran, begitu pula baginda Nabi SAW,

DAFTAR PUSTAKA

Alqur’an      : surat An-Nisa ayat tiga(3)

Hadits          : LM, jilid 1 hadits ke 884

Fiqh Islam   : H. Sulaiman Rasjid, Bandung; Sinar Baru Algensindo,

  1.                        1994.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s