Hukum Keluarga Muslim

HUKUM KELUARGA MUSLIM

OLEH : siswady_re

JUAL KAOS DISTRO ARAB 

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam membina keluarga yang harmonis manusia sering kali menjadikan hidup sebagai wadah untuk saling mengasihi. Namun terkadang dalam keluarga yang dianggap harmonis tidak didasari dengan hukum Islam. didalam rumah tangga mestinya terdapat hal yang dengan nya mampu menjadikan hidup tersebut penuh dengan keridhaan Allah. Yang pertama kalinya dalam keluarga Islam itu adalah bagaiman pernikan tersebut, apakah didasari syariat Islam atau tidak. Didalam makalah ini penulis akan menguraikan masalah pernikahan, karena pernikahanlah yang menjadi dasar untuk menjadikan keluarga Islam.

B. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang masalah yang penulis uraikan, ada beberapa permasalahan yang penulis akan paparkan dalam makalah ini. Antara lain :
1. Bagaiana pernikahan yang dikehendaki Islam
2. Hukum keluarga Islam dibeberapa negara

C. TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan dari karya tulis ini adalah antara lain :
1. Melatih mahasiswa menyusun paper dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan kreatifitas mahasiswa.
2. Agar mahasiswa lebih memahami dan mendalami pokok bahasan khususnya mengenai keluarga Islam.

BAB II
PEMBAHASAN
Dunia Islam mempunyai pengalaman yang sangat beragam mengenai berbagai upaya yang dilakukan untuk mempertahankan eksistensi “hukum-hukum” agamanya, mulai dari yang paling “ekstrim kiri” sampai yang “ekstrim kanan” . Ekstrim kiri yang dimaksud adalah negara-negara muslim yang sangat kental dengan faham sosialismenya dalam menerapkan hukum Islam dalam ranah kehidupan negara. Sedangkan ekstrim kanan merupakan kekuatan Islam yang tumbuh dan berkembang dengan visi dan misi menerapkan syariat Islam sebagai paradigma hukum yang mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga sistem sosial yang dibangun berlandaskan kepada hukum Islam. Artinya, Hukum keluarga muslim itu adalah bagaiamana hukum dalam keluarga itu dilandasi dengan hukum Islam. yang harus diperhatikan untuk melestarikan hukum keluarga muslim yaitu pernikahan,

A. Pernikahan
Pernikahan merupakan salah satu sunatullah yang berlaku pada semua makhluk Allah, baik manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Juga merupakan suatu cara yang dipilih Allah sebagai jalan manusia untuk beranak, berkembang biak, dan melestarikan kehidupannya, setelah masing-masing pasangan siap melakukan peranannya yang positif dalam mewujudkan pernikahan. Namun yang dikehendaki oleh Allah agar menjadi keluarga yang muslim, artinya berpegang kepada hukum Islam. bukan seperti makhluk lain, yang hidup bebas mengekuti nalurinya dan berhubungan antara jantan dan betinanya secara anarki tanpa adanya satu aturan. Oleh karena itu untuk menjaga kehormatan dan kemuliaan manusia, Allah mewujudkan hukum yang sesuai dengan martabatnya. Sehingga hubungan antara leki-laki dan perempuan diatur secara terhormat dan berdasarkan saling meridhai, dengan upacara ijab qabul sebagai lambang dari adanya seling meridhai serta dihadiri oleh para saksi yang menyaksikan bahwa kedua pasangan tersebut telah saling mengikat. Bentuk pernikahan ini telah memberi kan jalan yang aman pada naluri (seks), memelihara keturunan dengan baik dan menjaga kaum perempuan menjadi laksana rumput yang bisa dimakan oleh binatang ternak dengan seenaknya. Pergaulan suami-istri diletakkan dibawah naungan naluri keibuan dan kebapaan sehingga nantinya menghasilkan tumbuh-tumbuhan yang baik dan buah yang bagus.
Peraturan seperti inilah yang diridhai Allah dan diabadikan Islam untuk selamannya, sedangkan yang lainnya dibatalkan.
Dalam rangka menjalin pernikahan yang diinginkan oleh agama Islam, agar menjadi keluarga Muslim yang sejati, yang harus diperhatikan adalah :

1. Memilih Istri
Istri merupakan tempat penenang bagi suaminya. Juga tempat menyamaikan benihnya, tempat hidupnya, pengatur ruah tangganya, ibu dari anak-anaknya, tambatan hatinya, tempat menumpahkan rahasia dan mengadukan nasibnya. Ia merupakan tiang rumah tangga yang paling tinggi. Karena ia tempat belajar bagi anak-anaknya, tempat mereka mandapatkan berbagai bimbingan dan sifat-sifat, tempat anak-anak membentuk emosinya, tempat memperoleh banyak adat dan tradisinya, dan yang paling penring adalah tempat dimana ia(anak) mengenal agamanya.
Oleh karena itu Islam nenganjurkan agar memilih istri yang salahah dan menyatakan sebagai perhiasan terbaik yang sepatutnya dicari dan diusahakan untuk mendapatkan dengan sungguh-sungguh. Salehah disini yaitu memahami agama dengan baik, bersikap luhur dan memperhatikan hak-hak suaminya, dan memelihara anak-anaknya dengan baik. Sifat-sifat istri seperti inilah yang sepatutnya menjadi perhatian laki-laki agar menjadi keluarga muslim yang diinginkan oleh agama Islam.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : تُنْكَحُ اْلمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَا لِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا فَاظْفَرْبِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ ( رواه البخاري ومسلم )
“Permpuan itu dinikahi karena empat hal; karena kecantikannya, karena keturunannya, karena hartanya, atau karena agamanya. Akan tetapi pilihlah yang benar agamanya agar kamu selamat.” (Bukhari dan Muslim)

2. Memilih Suami
Kepada wali untuk mencarikan calon suami untuk putrinya, hendaknya memilih laki-laki yang berakhlak mulia dan dari keturunan yang baik. Karena jika ia menggauli istrinya, ia akan menggaulinya dengan baik, dan jika ia ingin menalaknya, ia akan menalak nya dengan baik pula. Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya’ berkata, “berhati-hati menjaga hak anak perempuan itu lebih penting karena ketika sudah menikah, dia menjadi budak yang tidak mudah untuk melepaskan diri, sedangkan suaminya bebas menalaknya kapan saja ia suka”. Sedangkan Ibnu Taimiyah berkata “ laki-laki yang selalu berbuat dosa tidak patut dijadikan suami.
Nabi saw. bersabda
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ زَوَّجَ كَرِيْمَتَهُ مِنْ فَاسِقٍ فَقَدْ قَطَعَ رَحِمَهَا ( رواه ابن حبان )
“barang siapa menikahkan saudara perempuannya dengan laki-laki fasik berarti ia telah memutuskan tali keluarganya.(HR. Ibnu Hibban, dhaif)

B. Hukum Keluarga Muslim di Beberapa Negara
Hukum Keluarga Muslim di Republik Turki
Turki merupakan negara yang memiliki motto “bukanlah negara agama, tetapi ia menjamin kebebasan beragama”. Sekalipun demikian dari seluruh jumlah penduduk turki, 98% beragama Islam dan sisanya 2% terdiri dari berbagai kelompok Yahudi, Katolik Roma dan pengikut beberapa kelompok Ortodoks Timur. Bagi muslim Turki, Hanafi adalah mazhab yang mengarsir kehidupan keberagamaan secara formal.

1. hukum Perkawinan

a. pertunangan
hukum keluarga turki mendorong pengadilan untuk tidak mengadakan perjanjian khusus pernikahan. Jika pesta pernikahan sudah dilakukan, ternyata perjanjian pernikahan batal, pihak yang dianggap bertanggung jawab dengan pembatalan dibebani kewajiban membayar ganti rugi berupa ganti biaya pesta yang telah dikeluarkan. Namun lain halnya dengan kegagalan tersebut disebabkan kematian salah satu pihak. Dalam kasusu ini pemberia tersebut dianggap hilang.

b. Umur Pernikahan
dalam undang-undang Turki seorang yang hendak nikah adalah 18 tahun bagi laki-laki dan 17 tahun bagi perempuan. Dalam kasus-kasus tertentu pengadilan dapat mengijinkan pernikahan pada usia 15 tahun bagi laki-laki dan 14 tahun bagi perempuan setelah mendapat ijin dari orang tua atau wali. Dalam fiqh Hanafi wacana tentang batasan umur pernikahan tidak secara konkrit menyebut umur, hanya secara tegas disebutkan bahwa salah satu syarat pernikahan adalah berakal dan baligh, sebagaiman juga keduanya menjadi syarat umum bagi operasionalisasi seluruh tindakan yang bernuansa hukum. Karena baligh hanyalah syarat bagi kelangsungan suatu tindakan hukum bukan merupakan syarat keabsahan pernikahan.

c. Poligami
UU turki melarang perkawinan lebih dari satu selama perkawinan pertama masih berlangsung. UU itu menyatakan bahwa seorang tidak menikah jika ia tidak membuktikan bahwa pernikahan yang pertama bubar karena kematian, penceraian atau pembatalan. Pernikahan yang kedua dianggap tidak sah oleh pengadilan atas dasar bahwa orang tersebut telah berumah tangga saat menikah.
Diperbolehkan oleh alquran berpoligami dalam kondisi tertentu telah dirubah secara suka rela oleh muslim Turki. Alasannya sebagaiman dinyatakan oleh beberapa intelektual turki, bahwa legislasi qur’ani mengenai masalah itu adalah “suatu perbaikan yang besar atas poligami yang terbatas. Pada jaman Arab pra Islam melalui cara monogami”. Kondisi sosial yang telah berubah di Turki telah membuat kondisi qur’ani poligami tidak dapat dilakukan.
Hukum keluarga diatas adalah salah satu dari sekian banyak dari hukum keluarga di beberapa negara. Seperti di Iran, Yaman Selatan, Republik Tunisia, Aljazair, Maroko, Afganitan, Somalia, Kuwait.

C. Kesimpulan
Untuk melihat letak Negara-negara Asia Tenggara ditengah pembaruan di dunia Muslim dalam abad 20, syarat yang perlu dijawab lebih dulu , yakni jika aturan tentang keharusan pencatatan perkawinan dan penceraian masuk kategori usaha pembaruan, maka Asia Tenggara masuk kelompok yang tidak terlalu lambat melakukan Usaha pembaruan. Sebaliknya kalo kategori pembaruan harus berangkat dari gerakan umat dan menyeluruh terhadap aturan yang berhubungan dengan perkawinan dan penceraian, maka Asia Tenggara termasuk negara yang terlambat melakukan pembaruan hukum keluarga.
Sejalan dengan itu, keharusan pencatatan perkawinan dan penceraian yang berlaku di Asia Tenggara banyak dipengaruhi dan ditujukan untuk kepentingan penjajah, meskipun untuk kasus Indonesia, aturan tersebut dibentuk setelah Indonesia merdeka.

DAFTAR PUSTAKA

Muzdhar, H.M. Atho – Khaeruddin, Hukum Keluarga di Dunia Islam Modern, Ciputat Press, Jakarta, 2003.
Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, Pena Pundi Askara, Jakarta, 2008.
Sosroatmojo, H. Arso – Wasit Aulawi, Hukum Perkawinan di Indonesia, Bulan Bintang, 1975.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s