Karakter. Urgen, tapi mulai dari mana

Karakter.
Urgen, tapi mulai dari mana?
(Erie Sudewo)

“Karakter adalah fondasi. Apapun kompetensi yang dibangun di atas fondasi ini akan berdiri tegak dengan baik dan benar”

    Kemelut Indonesia yang makin carut marut ini diyakini karena ketiadaan karakter. Memang banyak yang merasa bahwa bangsa ini telah kehilangan karakter. Namun ketika ditanya apa itu karakter, kita tergagap. Karakter, sesuatu yang seharusnya diketahui tapi sebagian besar kitak tahu. Sesuatu yang teramat penting, tapi sebagian kita menganggap remeh. Sesuatu yang amat diperlukan, tapi justru sebaian kita malah menertawai.

Aneh, kita merasa butuh referensi tentang karakter, namun, di Indonesia, buku tentang character building amat langka. Kita merasa kehilangan karakter, tetapi kita bingung mendefinisikannya. Kita merasakan kebutuhan amat sangat pada karakter, namun juga ragu benarkan yang kita yakini itu memang karakter. Kita ingin kembali memiliki karakter, tapi tidak tahu bagaimana memulainya.

Sesungguhnya saat merebut kemerdekaan, bangsa ini memiliki begitu banyak episode karakter. Namun, saat mengisi kemerdekaan, perilaku kita justru tidak berkarakter. Seolah karakter cukup di masa silam. Ia hanya layak menjadi pajangan dan kenangan. Coba sebutkan satu saja sinetron yang ditanyakan di televisi setiap hari, mana yang memiliki pendidikan karakter. Setiap hari kita menyaksikan kehidupan berjalan tanpa karakter. Apa yang akan terjadi kelak pada keluarga kita.

Tidak ada satu pun angin yang bisa mendorong kapal tanpa tujuan. Tidak ada satu pun kekuatan yang bisa membantu organisasi tanpa tujuan. Tidak ada perencanaan yang baik jika kita tidak tahu kemana kaki melangkah. Maka tidak ada manfaat pendidikan tanpa karakter. Akhirnya tidak ada artinya pembangunan tanpa karakter. Kita mendidik untuk apa? Kita membangun untuk siapa?

240-an juta rakyat Indonesia adalah kekuatan besar. Namun untuk mencari 11 orang pesepakbola yang baik, kita kedodoran. Kita punya sumberdaya alam tiada tara, tapi justru kemiskinan merajalela di sekitar pertambangan. Kita punya jutaan pegawai, tapi apa yang dikerjakan dan untuk siapa? Seperti halnya korupsi. Kita ingin disiplin, tapi lingkungan menjauh dan mengucilkan. Kita ingin memberdayakan masyarakat, tapi bisnis kita jangan-jangan malah memperdayai masyarakat.

Yang baik di negeri ini jadi asing dan jadi serba salah sendiri. Bahkan, oleh sebagian pihak dianggap musuh. Inilah yang dikatakan, tersesat dijalan yang benar mudah diingatkan. Tapi benar diantara yang sesat, ternyata jadi momok menakutkan. Yang benar malah disisihkan. Anomali jadinya. Kita ingin memadamkan api, ternyata kita menyiramnya dengan bensin. Kita ingin meluaskan usaha, tapi ternyata kita mencaploki tanah di mana pun. Kita meluaskan ritel pasar modern yang besar maupun yang kecil ke mana pun. Ternyata, semua itu hanyalah “gerakan” mematikan warung-warung di tengah masyarakat kecil. Inikah pembangunan?

Dalam kondisi yang carut marut ini, ada beberapa hal yang bisa disimak. Pertama, di sekitar kita terjadi kesesatan berjamaah. Kedua, ini tanda tidak ada tujuan. Ketiga, tanpa tujuan, tiap orang leluasa penuhi hasrat dan kepentingan. Keempat, dalam kondisi seperti ini tidak ada pemimpin. Yang ada pimpinan bukan pemimpin. Pimpinan hanya punya kedudukan, sedang pemimpin itu memimpin. Kelima, yang coba mengingatkan pasti digebuki seperti aktivis Indonesia Corruption Watch (ICW). Keenam, yang coba bongkar, siap-siaplah jadi korban. Bahkan bisa saja sampai menyeret anak istri. Siapa mau coba?

Akhirnya, kita memang kehilangan orientasi. Dalam suasana yang serba janggal, kikuk, marah, muak, dan demotivasi, kita ingin membuat tapi tidak bisa apa-apa. Kita ingin membantu, tapi kita di luar otoritas. Kita berharap pada eksekutif, yudikatif, dan eksekutif, tapi kita mengurut dada juga. Kita ingin memberi sumbangan, namun bagaimana caranya. Yang para penegak hukum saja, entah tidak mau atau tidak mampu.

Memang tidak ada yang lebih mengecawakan, jika kita tidak tahu kemana kita berjalan. Tidak ada yang lebih buruk, bila kita tidak tahu apa yang sesungguhnya tengah terjadi di sekitar kita. Yang selalu jadi soal kita. Sekedar tahu, batasannya cuman tahu. Akan tetapi dengan tahu sudah diartikan paham segalanya. Padahal tahu dan paham, maknanya jauh berbeda. Inilah yang orang inggis bilang I see I know. I hear I forget. I do I understand. Kita tahu bahwa berolah raga itu baik. Begitu kita praktekkan, ternyata bukan hanya segar. Peluh yang merebes keluar, punya sensasi sendiri. Dalam keterengahan, dengus napas jadi indah beriring degup jantung. Sepoi angin pun membawa semangat untuk bekerja keras usai olah raga. Dengan berolah raga, kita bisa rasakan banyak hal yang didapat dari hanya sekedar tahu bahwa olah raga itu baik.

Dan, bagi yang belajar atau yang tidak mau ikut korupsi, itu perbuatan baik. Tapi jika anda komandan, sekedar pasukan berperilaku baik saja ternyata tidak cukup. Banyak memang dijumpai orang saleh yang tidak mengganggu orang lain. Namun bila pasukan anda demikian mudah dikalahkan. Maka hanya baik tapi tidak tahu untuk apa kebaikan, sama artinya dengan banyak orang baik tapi hanya sedikit yang paham bagaimana menggunakan kebaikan itu.
Pemimpin menuntut agar perilaku baik harus melahirkan kesadaran. Atau sebaliknya kesadaranlah yang mewujudkan perilaku baik. Kesadaran ini menjadi landasan perilaku baik untuk melakukan peran, fungsi, dan tugas sesuai amanah dan tanggung jawab. Tiap orang akhirnya mempunyai tugas, mempunyai tanggung jawab. Semakin sadar akan tugas dan tanggung jawab, kerumunan pun berubah jadi barisan.

Semut dipegang dia menggigit. Domba akan melindungi anak-anaknya dari terkaman harimau meski dia tahu pasti kalah. Induk ayam pun siap menerjang yang dianggap membahayakan anak-anaknya. Binatang hanya diberi otak dan melatih ketrampilan untuk mencari makan. Untuk melindungi kelompok dan anak-anaknya, binatang dibekali naluri. Kita akan terharu dan terkesan sangat mendalam bila melihat induk ayam terkapar mati saat melindungi anak-anaknya.
Bicara manusia harusnya lebih. Kualitas manusia bukan hanya ditentukan oleh kecerdasan dan keahlian. Tidak cukup manusia dinilai dari kepakaran, ketrampilan, dan profesionalitasnya saja. Manusia yang hanya dididik ambisinya, jadilah manusia yang teramat egois dan sombong. Pribadi yang dilatih hanya untuk memenangkan persaingan, tidak akan memiliki nurani dan tidak mau mengetahui dan tidak mau mengakui hak orang lain.

Oleh karena itu, sesungguhnya kualitas manusia ditentukan oleh 2K, yakni kompetensi dan karakter. Kompetensi konsen pada peningkatan diri. Ini wilayah yang merangsang kecerdasan, mengasah keterampilan atau menempa keahlian dan profesionalitas. Meraih gelah doktor adalah upaya meningkatkan diri. Akan tetapi bila disetasinya plagiat, peningkatan macam mana lah itu! Meraih setifkasi profesi guru sesuatu yang baik. Hanya jika diraih dengan membeli, apa yang terjadi dengan murid-muridnya kelak? Jadi, kaya impian tiap orang, namun kalau korupsi jalanya bukankah kerusakan yang pasti terjadi?

Itulah pentingnya karakter, yang wilayahnya lebih pada perbaikan diri. Orang yang tidak curang, tidak korup, tidak mencuri, tidak berkhianat, tidak aji mumpung, dan tidak sewenang-wenang, sebernarnya dia bukan hanya sedang perbaiki diri. Di saat itu juga dia tengah meningkatkan diri. Itulah bedanya. Meningkatkan diri belum tentu perbaiki diri. Dengan curang jadilah dia merusak diri. Memperbaiki diri sudah pasti meningkatkan diri. Seperti yang Hoegeng Iman Santoso katakan: “Jadi oang penting itu baik, tapi yang lebih penting jadi orang baik”.
Karakter memang penting. Tidak kalah pentingnya dengan matematika dan bahasa Inggris yang dipelajari anak-anak. Malah karakter lebih penting karena posisinya menjadi fondasi. Dengan karakter, apapun kompetensi yang dibangun diatas fondasi itu akan berdiri tegak dengan baik dan benar. Dengan karakter, orang berilmu akan tebar ilmunya. Dengan karakter orang kaya tidak akan menikmati kekayaannya hanya untuk diri dan keluarganya saja. Dengan karakter pejabat negara akan menyejahterakan rakyat. Dengan karakter, pengusaha pasti tidak akan serakah.
Mahatma Gandhi bilang” bumi ini cukup untuk tujuh generasi, tapi tidak cukup untuk tujuh pengusaha serakah”. Albert Einstein menegaskan “jika manusia hanya diajari banyak mnghapal, maka kita seperti hanya melatih seekor anjing”. Ada kata bijak lain mengingatkan “ bila hanya kompetensi yang dilatih, manusia bisa lebih ganas ketimbang serigala. Karena segila hanya diberi otak. Sedangkan manusia diberi otak dan akal.

Itulah yang terjadi disekitas kita. Yang sudah kaya ingin lebih kaya lagi. Yang pintar mulai menuntut hak. Yang sudah punya jabatan, ingin jabatan yang lain. Yang korupsi melenggang kangkung ke sana sini. Yang dipenjara ternyata syik juga bagi yang punya uang. Dengan uang, bui diubah bagai hotel saja. Bisa keluar masuk sekehendak hati. Di televisi tidak ada hari tanpa bicara menyalahkan orang lain. Bangsa ini kehabisan tenaga, waktu, biaya dan segalanya karena cakar-cakaran untuk sesuatu hal yang tidak jelas juntungannya.

Maka plato menasihati “berbuat baiklah. Karena setiap orang tengah menghadapi persoalan besar”. Jangan resah apa yang dikatakan orang. Tapi resahlah jika kita tidak punya karakter. Karena kompetensi ibarat membangun tangga. Tetapi karakterlah yang menentukan, apakah tangga itu bersanda di tempat yang benar.

2 responses

  1. tertarik dengan tulisan-tulisan disini, thank banget ya.

    1. sama-sama mba’ sinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s