Kapasitas

Kapasitas

Modal yang Terukur

(Erie Sudewo)

“Kapasitas adalah DAYA TAMPUNG yang tiap orang berbeda. Bisa ditingkatkan, tapi sudah ada takarannya masing-masing”

Kemahaadilan  Allah mengendalikan manusia dari rasa sombong bagi yang diuji dengan kelebihan; dan rendah diri bagi yang kurang atau menyandang disabilitas. Pada kontinum “lebih-kuang” ini, ada kapasitas. Seberapa pun kapasitas itu, ada ukuran lain yang menjadi penentu kemuliaan.

Deddy Tirtayana, seorang yang mampu mengingat sesuatu dengan cepat dan tepat, dianugerahi kecerdasan di atas rata-rata. Apa yang dibaca langsung terekam paten. Untuk membuktikannya disodorkanlah komik wayang karya RA Kosasih yang populer di tahun 1970-an. Setengah jam kemudian dia ditanya, berapa kata “ajooouw” yang di ucap Dorna, salah satu tokoh komik itu. Deddy pun menjawab bukan hanya total jumlahnya, namun juga nomor halaman demi halaman. Ketika dicocokkan, apa yang dikatakan Deddy semuanya benar.

Orang seperti Deddy Tirtayana tidak banyak. Itulah kapasitas, yang masing-masing orang berbeda. BJ Habibie, boleh kecil tubuhnya. Tapi intelegensinya tidak terbendung. Kita mafhum membandingkan gajah dan semut tidak apple to apple. Namun untuk mengambil hikmah, coba renungkan ‘mana yang lebih kuat’. Sekekar-kekarnya gajah, tidak sanggupp dia angkat beban dua kali berat tubuhnya. Sedangkan semut, bulir nasi yang tiga kali berat badannya pun dia angkat. Mobil kijang besarnya nyaris dua kali lipat bemo. Tapi daya tampungnya tidak beda dengan bemo. Delapan orang juga.

Meningkatkan Kapasitas

Kapasitas adalah daya tampung. Ia sebuah anugerah. Yang diberi otak genius dan pandir, sama-sama sedikit. Kebanyakan manusia dibekali otak normal-normal saja. Harusnya seperti inilah struktur sosial. Kalangan atas ibaratnya yang genius. Kalangan bawah adalah yang di bawah rata-rata. Di atas sedikit karena pemimpin memang hanya satu. Yang di bawah juga harusnya sedikit hingga mudah dibantu. Yang harus banyak ada di kelas menengahnya. Sebagaimana yang memiliki otak normal. Inilah lapisan masyarakat yang harusnya berjumlah paling banyak. Dengan jumlah yang banyak, kelas menengah bisa memperkuat dirinya. Dengan kekuatan itu pula, mereka bisa berdayakan kelas bawah dengan lebih mudah. Inilah ciri struktur masyarakat yang sehat, kelas menengahnya lebih banyak dan lebih kuat.

Berbicara kepintaran memang bisa ditingkatkan. Coba cermati. Saat yang bodoh atasi diri, yang pintar makin melejit. Orang yang biasa saja, senang dan cukup dengan memberntuk vokal group. Bagi yang pintar itu tidak cukup. Dari sekedar vocal group dia bisa ubah jadi group vokal.

Yang pintar memberi, yang lain menerima. Bill Gates tawarkan Microsoft, kita terkagok-kagok tinggalkan mesin tik. Wajar dia jadi orang terkaya nomor satu dunia, karena berjuta-juta orang seperti kita menggunakan jasanya. Beyond. Melewati batas, menemukan sesuatu yang tidak terjangkau orang-orang biasa, memberi kemudahan, mengubah mimpi jadi kenyataan. Begitu anugerah bagi orang-orang pintar.

Karena kapasitasnya memang pintar, meraka pun bisa menemukan metode terbaik untuk menigkatkan intelegensia. Tarusan tahun orang bekerja di kebun-kebun apel dari generasi ke generasi. Namun cuma Albert Enstein yang melahirkan teori relativitas, hanya dengan melihat apel jatuh. Ibnu Khaldun ternyata bukan hanya ‘bapak sosiolog’ pertama dunia karena menulis buku muqaddimah.  Dia juga menemukan teori Hexagona, segi delapan, yang dipakai menjadi fondasi Twin Tower Petronas di Kuala Lumpur Malaysia.

Semua negara di dunia ingin menjadikan rakyatnya adil, makmur, dan sentosa. Banyak pula yang bercita-cita mengembangkan civil society. Bahkan, George Soros menggagas apa yang dia sebut sebagai open society, yang mungkin hanya dia yang paham maksudnya. Namun dari sepanjang sejarah peradaban manusia, hanya Rasulullah saw yang bisa wujudkan ‘Masyarakat Madani’.

Kapasitas itu daya tampung. Sekali lagi satu dengan yang lain berbeda tampungannya. Kapasitas kambing hanya butuh beberapa kg rumput per hari. Jangan bandingkan dengan kerbau. Sapi yang barangkali butuh berkarung-karung rumput per hari bukannya rakus, tapi itulah kebutuhan karena tubuhnya yang besar. Begitu habitatnya terganggu, gajah pun mengamuk karena lapar dan hektaran kebun pun dirusaknya.

Begitu cukup, macan berhenti mengoyak daging buruannya. Binatang tidak mengenal kamus untuk KKN, korupsi dan model suap menyuap. Hari ini makan, hanya untuk hari ini. Besik cari lagi, begitu cukup, tinggalkan. Maka tidak ada singa yang makan melebihi kapasitasnya hingga badannya menjadi tambun. Kerbau yang besar bukan over weight, tetapi itu kodratnya. Maka, jangan heran bisa sapi Australia memiliki bobot lebih dari satu ton. Sementara manusia, bila makannya melebihi kapasitas, perutnya akan membesar, badannya akan menjadi gemur, dan tambun.

Kapasitas itu alami. Bila hendak ditingkatkan, proses terbaiknya harus almi pula. Semangka itu sudah pas dan menarik karena alaminya yang bulat atau lonjong. Mengapa harus dibuat kotak. Itulah manusia, selalu ingin yang aneh-aneh. Maka kopi yang termahal pun adalah kopi yang keluar dari dubur musang. Aneh kan. Begitulah Kopi Luwak diburu, yang di dunia ini cuman ada di Indonesia. Kelapa Kopyor juga kelapa yang rusak. Namun disukai dan harganya paling mahal diantara seluruh kelapa. Sate kambing terbaik umunnya berasal dari kambing jantan muda. Sedikit yang tahu bahwa sate kambing terbaik bila kambingnya terlebih dahulu ‘dikebiri’ . lepas dari dzalim tidaknya, begitulah perangai manusia.

Menyangkut alam sudah ada hukum alamnya. Sesungguhnya kita pun suka yang alami. Tapi menyangkut diri, kita tidak suka yang alami. Ada gincu yang terpoles di sana sini. Yang kulitnya hitam, minta diputihkan. Seolah putih selalu lebih baik kegimbang hitam. Padahal no black no game bukan. Yang bule minta dicoklatkan kulitnya. Maka, pantai-pantai pun penuh berjemur-jemur. Yang rambutnya kriting minta diluruskan. Yang lurus minta dikritingkan. Bahkan yang laki-laki pun minta ‘diwanitakan’.

Bergantung Motovasi

Sebagai daya tampung, kapasitas bisa ditingkatkan. Motivasinya tergantung. Bisa tahta, bisa harta, atau juga karena wanita. Banyak orang meningkatkan diri karena kedudukan. Pegawai negeri cukup dengan loyal dan bertahan sebagai pegawai, maka senioritas mengantarnya naik pangkat dan pegang jabatan. Sehebat apa pun bila jenjang kepangkatan belum dilalui, tidak bisa dia jadi birokrat karier.

Pegawai swasta beda lagi tuntutannya. Untuk bisa jadi the best atau kariernya meningkat, mereka harus pacu diri tingkatkan kualitas. Tidak diminta pun mereka akan meningkatkan diri. Apalagi di perusahaan yang menuntut kreativitas, seperti di media, biro advertising, dan lembaga investsi, persaingannya terjadi begitu tajam.

Dalam bidang olah raga, persaingan lebih keras lagi. Untuk jadi yang tercepat, Valentino Rossi atau Hamilton bukan lagi belajar mengendari motor dan mobil sekencang-kencangnya. Mungkin mereka termasuk orang yang sudah tidak takut mati, rasa takutnya telah ditikam. Dengan menjuarai lomba, ada bebarapa hal diperoleh. Pertama tahta sebagai nomor satu atau tiga besar direbut. Kedua kekayaan mengalir dan ketiga wanita cantik pun berdatangan minta dipilih.

Yang jarang adalah orang yang meninngkatkan kualitas karena Allah Swt. Meski banyak yang mengatakan mereka berbuat karena tuhan. Tapi apa yang di mulut dan yang di hati sering berbeda. Orang yang meningkatkan diri karena Allah Swt., tampak dari perilakunya yang semakin baik, semakin shaleh, dan semakin takwa. Bukan dari hartanya, bukan dari gayan hidupnya, dan bukan dari kecantikan isterinya.

Bicara harta, tahta, dan wanita adalah bicara jasad. Ada batas, ada masanya. Semakin tua, semua itu makin tidak berarti lagi. Setelah mati, ketiganya tidak dapat dibawa keliang lahat. Malah jangan-jangan dalam mengejar harta, tahta, dan wanita ternyata dengan utang atau lakukan hal negatif. Maka ke liang lahat masih pula membawa masalah. Keluarga pun diwarisi persoalan untuk diselesaikan. Dan, semua itu akan menuntutnya kelak.

Sementara orang yang budi pekertinya baik, dia brhasil membina jiwanya. Dia tidak mengejar kedudukan, tidak mengejar harta, atau tidak mengejar wanita karena kecantikan lahiriah. Jika dapat kedudukan, itu tidak membuatnya menjadi ‘gelar pejabat’. Jika dia dapat harta, pasti dirinya terkontrol untuk tidak jadi ‘gelar OKB’ yang gemar berpamer-pamer. Jika punya isteri yang cantik, dia mohon agar kecantikan sesungguhnya tercermin dari perilaku isteri yang shaleh. Itulah sebaik-baik perhiasan di rumah.

Orang yang sudah membina jiwanya, dia sudah menemukan hidup yang sesungguhnya. Hari-harinya penuh dengan hikmah, tenang, tenteram, selamat dan menyelamatkan. Kemanapun dia pergi, hidupnya tereasa lapang. Kemanapun dia melangkah, kakinya terasa ringan. Tidak ada utang, tidak ada yang dendam. Bagi yang telah membina jiwa, itulah peningkatan kapasitas hakiki.

”Bicara harta, tahta, dan wanita adalah soal jasad. Ada batas, ada masanya. Setelah tua keindahan sensualnya hilang”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s