Mahkum ‘alaihi

BAB I

PENDAHULUAN

A.   LATAR BELAKANG MASALAH

Allah mewajibkan kepada hambanya  untuk mengabdi dan selalu taat, menjalankan segala perintah dan menjauhi segala yang dilarang Allah. Namun kebanyakan dari kalangan manusia lalai akan hal itu. Padahal dalam Alqur’an sudah dijelaska ancaman bagi yang durhaka dan pahala bagi yang taat. Namun sepertinya alquran tidak menjadi hal yang istimewa bagi sebagian mereka (ingkar). Syariat yang Allah wajibkan kepada hambanya (manusia) adalah segala sesuatu yang telah diajarkan oleh Rasulullah. Namun belum menjadi wajib apabila hamba tersebut belum mukallaf. Dalam makalah ini penulis akan memaparkan seputar mahkum ‘alaih. Karena memang, kewajiban merupakan kewajiban dan tidak bisa ditawar-tawar. Katakanlah yang hak walaupun itu terasa pahit ataupun berat. dalam makalah ini menjelaskan begitu sangat pentingnya memahami apa saja yang telah diwajibkan kepada manusia yang sudah mukallaf, agar tidak menjadi hamba yang ingkar kepada Allah SWT.

B.   RUMUSAN MASALAH

Dari latar belakang masalah yang  penulis uraikan, ada beberapa permasalahan yang penulis akan paparkan dalam makalah ini. Antara lain:

  1. Mahkum ‘alaihi?
  2. Syarat – syarat nya?

C.  TUJUAN PENULISAN

Adapun tujuan dari karya tulis ini adalah antara lain :

  1. Melatih mahasiswa menyusun paper dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan   kreatifitas mahasiswa.
  2. Agar mahasiswa lebih memahami dan mendalami pokok bahasan khususnya mengenai mahkum ‘alaihi.

BAB II

PEMBAHASAN

A.   Pengertian dan Syarat-syarat nya

Subjek hukum atau pelaku hukum ialah orang-orang yang dituntut oleh Allah untuk berbuat, dan segala tingkah lakunya telah diperhitungkan berdasarkan tuntutan Allah itu. Dalam istilah ushul fiqh, subjek hukum itu disebut mukallaf atau orang-orang yang dibebani hukum, atau mahkum ‘alaihi yaitu orang yang kepadanya diperlakukan hukum.

Seperti telah diterangkan bahwa definisi hukum taklifi adalah “titah Allah yang menyangkut perbuatan mukallaf yang berhubungan dengan tuntutan atau pilihan untuk berbuat”. Dari definisi ini dapat dipahami bahwa ada dua hal yang harus terpenuhi pada seseorang untuk dapat disebut mukallaf, yaitu bahwa ia mengetahui tuntutan Allah itu dan bahwa ia mampu melaksanakan tuntutan tersebut. Dua hal tersebut merupakan syarat taklif atas subjek hukum. Penjelasannya adalah sebagai berikut;

  1. Ia memahami atau mengetahui titah Allah tersebut yang menyatakan bahwa ia terkena tuntutan dari Allah. Paham dan tahu itu sangat berkaitan dengan akal. Karena akal itu adalah alat untuk mengetahi dan memahami. Sesuai dengan sabda Nabi Saw.

اَلدِّيْنُ هُوَالعَقْلُ لَادِيْنَ لِمَنْ لَاعَقْلَ لَهُ

Agama itu didasarkan pada akal; tidak ada arti agama bagi orang yang tidak berakal.

Akal pada diri seseorang manusia tumbuh dan berkembang sesuai dengan pertumbuhan fisiknya dan baru berlaku atasnya taklif bila akal telah mencapai tingkat yang sempurna. Perkembangan akal itu sesuatu yang bersembunyi dan tidak dapat dilihat dari luar. Karena itu perkembangan akal pada manusia dapat deketahui  pada perkembangan jesmaninya. Seorang manusia akan mencapai tingkat kesempurnaan akal bila telah mencapai batas dewasa atau balihg, kecuali bila mengalami kelainan yang menyebabkan ia terhalang dari taklif.

Jadi dapat disimpulkan bahwa syarat subjek hukum yang pertama adalah “baligh dan berakal”. Orang yang tidak memenuhi persyaratan ini tidak berlaku padanya tuntutan hukum atau taklif. “diangkatkan kalam (tuntutan) dari tiga hal yaitu dari anak-anaknya sampai ia dewasa; dari orang yang tidur sampai ia terbangun; dari orang gila sampai ia  waras”. pada dasarnya seseorang yang telah dewasa dan berakal akan mampu akan memahami titah Allah yang menyebabkan ia telah memenuhi syarat sebagai subjek hukum. Paham itu dapat dicapai secara langsung. Artinya, ia secara langsung memahami ayat-ayat hukum dalam alqur’an atau hadits Nabi yang berkaitan dengan tuntutan taklif itu, baik yang tersurat maupun yang tersirat. Disamping itu ia pun dapat dianggap telah memahami taklif itu bila titah Allah itu sudah disampaikan kepadanya dengan cara apapun. Dengan demikian umat Islam diseluruh permukaan bumi ini yang telah memenuhi persyaratan baligh dan berakal telah dianggap mengetahui hukum Allah. Karena itu kepadanya telah berlaku taklif.

  1. Ia telah mampu menerima beban taklif  atau beban hukum yang dalam istilah Ushul disebut ahlun li al-taklif. Kecakapan menerima taklif atau yang disebut ahliyah adalah kepantasan untuk menerima taklif. Kepantasan itu ada dua dua macam, yaitu kepantasan untuk dikenai hukum dan kepantasan untuk menjalankan hukum.

Kecakapan untuk dikenai hukum atau yang disebut ahliyah al-wujub yaitu kepantasan seorang manusia untuk menerima hak-hak dan dikenai kewajiban. Kecakapan dalam bentuk ini berlaku bagi setiap manusia ditinjau dari segi ia adalah manusia, semenjak ia dilahirkan hingga menghembuskan nafas terakhir dalam segala sifat sifat, kondisi dan keadaannya. Para ahli Ushul membagi ahliyah alwujub itu kepada dua tingkatan.

  1. Ahliyah al-wujub naqis atau kecakapan dikenai hukum secara lemah, yaitu kecakapan seorang manusia  untuk menerima hak, tetapi tidak menerima kewajiban; atau kecakapan untuk dikenai kewajiban tetapi tidak pantas menerima hak. Sifat lemah pada kecakapan ini disebabkan oelh karena hanya salah satu kecakapan pada dirinya diantara dua kecakapan yang harus ada padanya.

Contoh kecakapan untuk menerima hak, tetapi tidak untuk menerima kewajiban adalah bayi dalam kandungan ibunya. Bayi atau janin itu telah berhak meneriam hak kebendaan seperti warisan dan wasiat, meskipun ia belum lahir. Realisasi dari hak itu berlaku setelah ternyata ia lahir dalam keadaan hidup. Bayi dalam kandungan itu tidak dibebani kewajiban apa-apa, karena secara jelas ia belum bernama manusia.

Contoh kecakapan untuk dikenai kewajiban tetapi tidak cakap menerima hak adalah orang yang mati tetapi masih meninggalkan hutang. Dengan kematiannya itu ia tidak ia tidak mendapatkan hak apa-apa lagi, karena hak hanyalah untuk orang yang hidup. Tetapi si orang mati akan tetap dikenai kewajiban untuk membayar hutang  yang dibuatnya semasa ia masih hidup. Kewajiban itu tentunya yang menyangkut harta benda  yang dapat dilakukan oleh orang lain. Adapun kewajiban yang menyangkut pribadi, seperti shalat yang tertinggal menjadi gugur oleh kematiannya karena pelaksanaan kewajiban seperti itu tidak dapat digantikan orang lain.

  1. Ahliyah al-wujub kamilah atau kecakapan dikenai hukum secara sempurna, yaitu kecakapan seseorang untuk dikenai kewajiban dan juga untuk menerima hak.  Adanya sifat sempurna dalam bentuk ini karena kepantasan berlaku untuk keduanya sekaligus. Kecakapan ini berlaku sejak lahir sampai sekarat selama ia masih bernafas.

Contoh anak yang baru lahir, disamping ia berhak secara pasti menerima warisan dari orang tua atau kerabatnya, ia juga telah dikenai kewajiban seperti zakat fitrah atau zakat harta­­ – menurut sebagian ulama – yang pelaksanaannya dilakukan oleh orang tua atau walinya. Demikian pula orang yang sedang sekarat. disaping ia berhak menerima harta warisan dari orang tua atau kerabatnya yang lebih dulu meninggal, ia juga dibebani kewajiban zakat atas harta nya yang telah memenuhi syarat untuk dizakatkan.

Ahliyah al-ada’ atau kecakapan untuk menjalankan hukum yaitu kepantasan seseorang manusia untuk diperhitungkan segala tindakannya menurut hukum. hal ini berarti bahwa segala tindakannya, baik dalam bentuk ucapan atau perbuatan telah mempunyai akibat hukum. dalam bentuk ucapan umpamanya ia melakukan transaksi atau akad. Akadnya itu telah dianggap sah dengan segala akibat hukumnya. Bila ia membebaskan seseorang dari hutang dengan lisannya, secara hukum orang yang dibebaskan dari hutang itu tidak berhutang lagi secara hukum. dalam bentuk perbuatan, umpamanya shalat, yang dilakukannya telah dianggap sah. Kalau ia melakukan tindak pidana ia akan dikenai sanksi hukum atas pelanggaran yang dilakukannya itu.

B.   Halangan-halangan yang Menimpa Mukallaf yang Merubah Hukum

Keahlian (kecakapan) para mukallaf yang dibebani tugas hukum menjadi hilang, bila timbul yang menghilangkan kecakapannya (menunaikan). Keahlian dibagi menjadi dua :

a)   Keahlian wajib, yakni : layak dan pantas menjalankan apa yang diwajibkan, baik atas yang menjalankan, maupun baginya.

b)   Keahlian menunaikan, yakni kelayakan dan kepantasan orang yang ditugaskan untuk menyelesaikan pekerjaan menurut cara yang dipandang oleh syara’.

Pergantungan keahlian wajib pada manusia, ialah : kemanusiaanya, atau yang diberikan pernilaian sebagai seorang manusia, seperti badan-badan wakaf. Adapun keahlian menunaikan itu ialah tamyiz dan akal. Akal yang kurang seperti akal anak kecil yang mumayyiz, menetapkan keahlian yang kurang dan akal yang sempurna, memberi keahlian yang sempurna.

1)    Gila

Gila itu berlawanan dengan satu syarat yang penting dari ibadat, yakni niat. Orang yang gila tidak dapat melakukan niat, atau niat tidak dipandang sah. Dan gila itu ada yang berkepanjangan dan ada yang tidak berkepanjangan. Ada yang datang, ada yang memang telah bersemi dalam diri orang gila itu.

2)    Setengah gila

Orang setengah gila dihukum sama dengan anak sudah mumayyiz. Yang dikatakan setengah gila ialah orang yang kadang-kadang terang fikirannya serupa dengan orang yang berakal dan terkadang-kadang terganggu akalnya.

3)    Lupa

Lupa tidak menghilangkan kewajiban dan mengerjakan tugas, karena orang lupa dipandan sempurna akalnya. Tidaklah terlepas dari hak-hak hamba, karena ia lupa. Adapun dari hak-hak Allah, maka apakah kita pandang berdosa karena keluan itu, dan apakah pekerjaan yang dilakukan dengan karena kelupaan itu menghasilkan hukum.

4)    Tidur

Tidur suatu keadaan yang menghalangi kita memahkan khitab. Maka tidur itu mewajibkan pentakhiran khitab menunaikan hukum sehingga terbangun. Hal ini memberi pengertian bahwa wajib tidak gugur, hanya menunaikannya yang ditakhirkan sehingga terjaga atau teringat.

5)    Pingsan

Pingsan menghalangi kita memahamkan khitab bahkan lebih kuat dari pada tidur. Karen itu orang yang pingsan disamakan dengan orang tidur, bahkan lebih. Lantaran itulah dihukum batal sembahyang orang yang pingsan disegenap keadaan, walau dalam  sembahyang sekalipun.

6)    Sakit

Sakita tidak berlawanan dengan kesanggupannya mengerjakan ibadat, karena sakit itu tidak merusakan akal, dan tutur. Hanya melemahkan saja. Karena itu di suruhlah kepada orang yang sedang sakit mengerjakan kewajiban sebatas kemampuannya.

7)    Haid dan Nifas

Tidak menggugurkan kesanggupan menanggung kewajiban dan menunaikannya. Hanya saja lantaran syara’ telah mensyaratkan  suci untuk sah bersembahyang, tidaklah sah sembahyang yang dikerjakan selam dalam haid dan bernifas itu.

8)    Mati

Mati menggugurkan kewajiban yang dibebankan kepada manusia. Dan terletaklah atas pundaknya dosa akibat kecerobohan dan kesalahan selama hayatnya. Hukum-huku yang dibebankan atasnya untuk orang lain tetap berlaku tidak digugurkan. Umpamanya jika ia menyimpan amanah orang (yang masih dalam tangannya), atau rampasan, maka semuanya wajib dikembalikan kepada yang empunya, sesudah ia mati. Tentang hal hutang, maka tidak lagi dalam pertanggungannya; karena sesudah mati tak ada pertanggungan lagi. Namun jika ia tidak meningglkan harta, atau ada yang menanggung untuk membayarnya sebelum ia mati, wajiblah hutang itu ditunaikan dari hartanya atau oleh yang menanggung.

9)    Mabuk

Mabuk jika tidak dipandang maksiat, seperti mabuk karena terpaksa meminum minuaman  yang memabukkan atau diminumnya untuk obat, maka diserupakan hukum orang mabuk itu dengan orang pingsan. Tapi jika mabuk karena maksiat, tidaklah digugurkan sesuatu kewajibannya. Hal ini dimaksudkan untuk menghukum dan menakutkannya.

10) Dalam perjalanan

Yang dimaksud dengan perjalanan dalam pembahasan ini adalah keadaan tertentu dalam perjalanan yang menyulitkan seseorang untuk melakukan kewajiban agama. Kesulitan dalam perjalanan ini pada dasarnya tidak menghilangkan kecakapan dalam berbuat hukum. meskipun demikian karena hukum syara’ menginginkan keringanan pada umatnya maka hukum syara’ memberikan kemudahan kepada seseorang dalam perjalanan itu.

11) Jahil (ketidak tahuan tentang adanya hukum)

Hukum Islam telah dijelaskan dalam sumber-sumbernya, baik dalam alquran, sunnah maupun ijma’ ulama. Sehingga tidak ada alasan bagi seseorang untuk tidak melaksanakannya dengan alasan tidak tahu. Tidak tahu seperti ini tidak dapat ditempatkan sebagai uzdur selama ia masih berada dalam lingkungan wilayah Islam.

12) Terpaksa

Yang dimaksud dengan paksaan atau keadaan terpaksa ialah menghendaki seseorang melakukan pekerjaan yang yang bertentangan dengan keinginannya. Bila seseorang melakukan sesuatu diluar keinginannya untuk atau atas kehendak seseorang, berarti ia tidak rela berbuat demikian. Keadaan rela dan terpaksa itu merupakan dua hal yang berlawanan.

C. Kesimpulan

Pada dasarnya orang yang mukallaf adalah orang yang dituntut oleh Allah untuk berbuat dan segala tingkah lakunya telah diperhitungkan berdasarkan tuntutan Allah itu. Namun ada kalanya seorang  yang dibebani hukum tersebut menjadi hilang ataupun diberi keringanan oleh syara’. Yaitu seperti yang dijelaskan diatas, beberapa hal yang bisa merubah hukum yang telah diwajibkan kepada seoran mukallaf.

DAFTAR PUSTAKA

Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh, PT Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 2000.

Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Pengantar Hukum Islam,       PT Pustaka Rizki Putra, semarang, 1997.

 

T. M. Hasbi Ash Shiddieqy, Pengantar Hukum Islam, Bulan Bintang,

jakarta, 1981.

4 responses

  1. bagus,.,bagus.,bagus,.:-)

  2. keyeeennn .. :D
    Tingkatkan!!!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 83 pengikut lainnya.